SinemArt Dihargai Karena Berani Buat Konten Edukasi KDRT Melalui Film Suamiku Lukaku
Film “Suamiku, Lukaku” menjadi sorotan dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh Komunitas Perempuan Berkebaya dan Universitas Bung Karno. Acara ini selain menampilkan film, juga mengadakan diskusi mengenai kekerasan dalam rumah tangga, berfungsi sebagai platform untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.
Pemutaran dan diskusi ini berlangsung di Aula Dr. Ir. Soekarno, UBK Jakarta, bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam mengenai isu sensitif ini. Dengan menghadirkan berbagai pembicara yang berpengalaman di bidangnya, acara ini diharapkan mampu memberikan perspektif baru tentang kekerasan dalam rumah tangga.
Di antara para pembicara, terdapat Ketua Komnas Perempuan Dr. Maria Ulfa Anshori yang memberikan penjelasan mendalam mengenai isu KDRT. Selain itu, advokat dan direktur WCC Puantara, Siti Husna Lebby, juga berbagi pandangan yang memperkaya diskusi ini.
Film sebagai Salah Satu Cara untuk Edukasi Tentang KDRT
Film “Suamiku, Lukaku” diharapkan dapat menjadi alat untuk membangkitkan empati dan kesadaran akan kekerasan dalam rumah tangga. Rektor UBK, Dr. Ir. Sri Mumpuni Ngesti Rahaju, mengungkapkan harapannya agar film ini membuka mata publik terhadap realitas yang sering diabaikan.
Menurutnya, film ini tidak hanya sekadar hiburan tetapi juga menggugah emosi audiens untuk berpikir lebih jauh tentang penanganan masalah ini. Diskusi setelah film diadakan guna memastikan bahwa pesan yang disampaikan dapat memperluas wawasan dan mendorong tindakan nyata untuk membantu korban.
Maria Ulfa menekankan bahwa meningkatkan kesadaran adalah langkah pertama dalam memerangi KDRT. Dia menyebutkan bahwa setiap tahun Komnas Perempuan menerima ribuan laporan kasus kekerasan, dan banyak di antaranya berasal dari situasi yang tampaknya tidak dapat diubah.
Pentingnya Kesadaran Masyarakat Terhadap KDRT
KDRT adalah isu serius yang dihadapi banyak perempuan di Indonesia. Dalam sambutannya, Maria Ulfa menyampaikan data yang menunjukkan bahwa banyak perempuan yang tidak melaporkan kekerasan yang mereka alami karena stigma sosial.
“Banyak yang merasa malu atau takut untuk berbicara tentang pengalamannya,” jelasnya. Dia juga menekankan pentingnya dukungan komunitas dan lembaga untuk membantu korban merasa lebih aman dalam berbagi cerita mereka.
Hal ini semakin penting karena KDRT tidak hanya berdampak secara fisik tetapi juga psikologis. Penyintas KDRT perlu mendapatkan bantuan yang tepat agar mereka dapat memulai hidup baru dengan lebih baik dan lebih kuat.
Testimoni dari Penyintas KDRT dan Pesan Bijak
Mieke Amalia, yang hadir dalam diskusi, membagikan pengalamannya sebagai penyintas KDRT. Ia menceritakan bagaimana keterbatasan berbicara tentang pengalaman tersebut membuatnya merasa terjebak dalam situasi yang sulit.
“Penting untuk tidak terburu-buru dalam hal pernikahan,” pesannya. Mieke menekankan bahwa wanita seharusnya memiliki kemandirian finansial sebelum terikat dalam sebuah hubungan yang mungkin berisiko.
Chika Waode, juga seorang penyintas, menambahkan pandasnya, “Harus ada keberanian untuk mengakhiri hubungan yang tidak sehat.” Dia menegaskan bahwa tidak ada perempuan yang harus menerima perlakuan buruk dalam rumah tangga.
